Tampilkan postingan dengan label Lokomotif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lokomotif. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 Februari 2012
Minggu, 19 Februari 2012
Lokomotif Indonesia (daftar)
CC204-01 (03-01) JNG
CC204-02 (03-02) JNG
CC204-03 (03-03) YK
CC204-04 (03-04) YK
CC204-05 (03-05) YK
CC204-06 (03-06) YK
CC204-07 (03-07) SDT
CC204-08 (08-01) YK
CC204-09 (08-02) YK
CC204-10 (08-03) SMC
CC204-11 (08-04) PWT
CC204-12 (08-05) PWT
CC204-13 (08-06) BD
CC204-14 (08-07) BD
CC204-15 (08-08) BD
CC204-16 (08-09) BD
CC204-17 (08-10) BD
CC204-18 (10-01) SDT
CC204-19 (10-02) SDT
CC204-20 (10-03) SDT
CC204-21 (10-04 > 11-01) JNG
CC204-22 (10-05 > 11-02) JNG
CC204-23 (11-01 > 11-03) SDT
CC204-24 (11-02 > 11-04) SDT
CC204-25 (11-03 > 11-05) SDT
CC204-26 (11-04 > 11-06) SDT
CC204-27 (11-05 > 11-07) PWT
CC204-28 (11-08) TNK
CC204-29 (11-09) TNK
CC204-30 (11-10) TNK
CC204-31 (11-11) TNK
CC204-32 (11-12) TNK
CC204-33 (11-13) TNK
CC204-34 (11-14) YK
CC204-35 (11-15) SDT
CC204-36 (11-16) SDT
CC204-37 (11-17) JNG
CC203-01 (95-01) YK
CC203-02 (95-02) BD
CC203-03 (95-03) BD
CC203-04 (95-04) BD
CC203-05 (95-05) BD
CC203-06 (95-06) BD
CC203-07 (95-07) BD
CC203-08 (95-08) BD
CC203-09 (95-09) BD
CC203-10 (95-10) BD
CC203-11 (95-11) BD
CC203-12 (95-12) JNG
CC203-13 (98-01) JNG
CC203-14 (98-02) YK
CC203-15 (98-03) JNG
CC203-16 (98-04) YK
CC203-17 (98-05) JNG
CC203-18 (98-06) JNG
CC203-19 (98-07) JNG
CC203-20 (98-08) JNG
CC203-21 (98-09) JNG
CC203-22 (98-10) JNG
CC203-23 (98-11) JNG
CC203-24 (98-12) JNG
CC203-25 (89-13 > 98-13) JNG
CC203-26 (98-14) JNG
CC203-27 (98-15) JNG
CC203-28 (98-16) SMC
CC203-29 (98-17) SMC
CC203-30 (98-18) SMC
CC203-31 TNK
CC203-32 TNK
CC203-33 TNK
CC203-34 TNK
CC203-35 (01-01 > 01-05) CN
CC203-36 (01-06) JNG
CC203-37 (01-07) SDT
CC203-38 (02-01) SDT
CC203-39 (02-02) SDT
CC203-40 (02-03) SDT
CC203-41 (02-04) BD
CC201-01r (77-01) SDT
CC201-02 (77-02) SDT
CC201-04 (77-03) SDT
CC201-05 (77-04) SDT
CC201-07 (77-05) SDT
CC201-08 (77-08 > 77-06) YK
CC201-09 (77-07) SDT
CC201-10 (77-08) SDT
CC201-13 (77-09) SDT
CC201-14r (77-10) SDT
CC201-15 (77-11) SDT
CC201-17 (77-12) SDT
CC201-18r (77-13) SDT
CC201-19 (77-14) SDT
CC201-20 (77-15) SDT
CC201-21 (77-16) SDT
CC201-22 (77-17) SDT
CC201-23 (77-23 > 77-18) SDT
CC201-24 (77-19) SDT
CC201-25 (77-20) CN
CC201-26r (77-21) CN
CC201-27 (77-22) CN
CC201-28 (78-01 > 77-23) CN
CC201-29 (77-24 > 78-01) CN
CC201-30 (78-02) YK
CC201-31 (78-03) YK
CC201-34 (78-04) YK
CC201-36 (78-05) YK
CC201-38 (78-06) JNG
CC201-39 (83-01) JNG
CC201-40 (83-02) YK
CC201-41 (83-03) YK
CC201-42 (83-04) YK
CC201-43 (83-05) YK
CC201-44 (83-06) YK
CC201-45 (83-07) YK
CC201-46 (83-08) YK
CC201-47 (83-09) YK
CC201-48 (83-10) TNK
CC201-49 (83-11) PWT
CC201-50 (83-12) PWT
CC201-51 (83-13) PWT
CC201-52 (83-14) PWT
CC201-53 (83-15) PWT
CC201-54 (83-16) PWT
CC201-55 (83-17) PWT
CC201-56 (83-18) PWT
CC201-57 (83-19) PWT
CC201-58 (83-20) PWT
CC201-59 (83-21) PWT
CC201-60 (83-22) PWT
CC201-61 (83-23) PWT
CC201-62 (83-24) PWT
CC201-63 (83-25) PWT
CC201-64 (83-26) PWT
CC201-65 (83-27) PWT
CC201-66 (83-28) PWT
CC201-67 (83-29) PWT
CC201-68 (83-30) BD
CC201-69 (83-31) SDT
CC201-70 (83-70 > 83-32) JNG
CC201-71 (83-33) SDT
CC201-72 (83-34) SDT
CC201-73r (89-01) JNG
CC201-74r (89-02) JNG
CC201-75r (89-03) JNG
CC201-76r (89-04) JNG
CC201-77r (89-05) JNG
CC201-78r (89-06) JNG
CC201-79r (89-07) JNG
CC201-80r (89-08) JNG
CC201-81r (85-81 > 89-09) JNG
CC201-82r (89-10) JNG
CC201-91 (92-01) JR
CC201-92 (92-02) BD
CC201-93 (92-03) BD
CC201-94 (92-04) BD
CC201-95 (92-05) BD
CC201-96 (92-06) BD
CC201-97 (92-07) BD
CC201-98 (92-08) TNK
CC201-99 (92-09) BD
CC201-100 (92-10) BD
CC201-101 (92-11) TNK
CC201-102 (92-12) TNK
CC201-103 (92-13) JNG
CC201-104 (92-14) JNG
CC201-105 (92-15) JNG
CC201-106 (92-16) JNG
CC201-107 (92-17) JNG
CC201-108 (92-18) JNG
CC201-109 (92-19) JNG
CC201-110 (92-20) JNG
CC201-126r (99-01) JNG
CC201-127r (83-47r ???) JNG
CC201-128r (99-02r ???) YK
CC201-138r (04-01) SMC
CC201-139r (04-02) SMC
CC201-140r (04-03) SMC
CC201-141r (04-04) SMC
CC201-142r (04-05) SMC
CC201-143r (04-06) SMC
CC201-144r (04-07) SMC
======================
CC204-01 rebuilt from CC201-03
CC204-02 rebuilt from CC201-11
CC204-03 rebuilt from CC201-16
CC204-04 rebuilt from CC201-37
CC204-05 rebuilt from CC201-32
CC204-06 rebuilt from CC201-06
CC204-07 rebuilt from CC201-12
CC201-01r repowering from CC201-01
CC201-14r repowering from CC201-14
CC201-18r repowering from CC201-18
CC201-26r repowering from CC201-26
CC201-73r rebuilt from BB203-43
CC201-74r rebuilt from BB203-49
CC201-75r rebuilt from BB203-50
CC201-76r rebuilt from BB203-44
CC201-77r rebuilt from BB203-53
CC201-78r rebuilt from BB203-54
CC201-79r rebuilt from BB203-57
CC201-80r rebuilt from BB203-56
CC201-81r rebuilt from BB203-47
CC201-82r rebuilt from BB203-58
CC201-126r rebuilt from BB203-21
CC201-127r rebuilt from BB203-27
CC201-128r rebuilt from BB203-28
CC201-138r rebuilt from BB203-20
CC201-139r rebuilt from BB203-25
CC201-140r rebuilt from BB203-22
CC201-141r rebuilt from BB203-26
CC201-142r rebuilt from BB203-??
CC201-143r rebuilt from BB203-??
CC201-144r rebuilt from BB203-??
Source : click here
Sabtu, 18 Februari 2012
Traksi Ganda ~ Double Traksi
PENEMPATAN LOKOMOTIP TRAKSI GANDA
Kedua lokomotip yang akan dipakai traksi ganda ditempatkan dimuka kereta api. Yang disebut traksi ganda (dobel-traksi) ialah jika kereta api digerakkan oleh dua lokomotip yang keduanya digandeng pada rangkaian kereta api (berbeda dengan peraturan mengenai lokomotip pendorong).
Menempatkan salah satu lokomotip di belakang kereta api hanya dibolehkan pada waktu keluar dari stasiun sampai sinyal utama dan untuk mendaki tanjakan yang berat.
Jika lokomotip yang belakang tidak digandengkan pada kereta api maka yang diperkenankan dilalui hanya lintas yang terus menerus menanjak (tanpa melalui jalan yang menurun).
Puncak kecepatan kereta api dengan salah satu lokomotip di belakang maksimum 50 km / jam.
Menempatkan salah satu lokomotip traksi ganda (bukan lok rusak atau lok dingin) diantara kereta / gerbong tidak dibolehkan kecuali di lintas bergigi.
Dari tablo lokornotip dapat diketahui penjelasan dan syarat yang berlaku bagi perjalanan traksi ganda untuk berbagai jenis lokomotip pada semua lintas.
Penggunaan lebih dari satu jenis lokomotip dalam traksi ganda (lok diesel dengan lok uap atau dengan lok listrik) dibatasi dalam hal mendesak sekali, Dalam membuat dinasan lokomotip dilarang mencantumkan lok diesel dalam traksi ganda dengan lok uap maupun lok listrik.
PERATURAN TENTANG PERJALANAN KERETA API DENGAN DUA LOKOMOTIP DIMUKA
Pada traksi ganda lokomotip yang tenaganya lebih kuat (besar) ditempatkan di depan.
Jika pada waktu berjalan dengan rem udara tekan salah satu lokomotip tidak dilengkapi dengan rem udara tekan maka lokomotip tersebut ditempatkan di muka. Sewaktu berjalan dengan rem pakem salah satu lokomotip tidak dilengkapi dengan rem pakem, maka lokomotip tersebut ditempatkan di muka. Masinis lokomotip yang di muka bertindak seakan berjalan dengan kereta api yang dilayani dengan rem tangan sedang masinis dari lok yang ke dua mempergunakannya rem udara tekan atau rem pakem menurut semboyan yang diberikan oleh masinis yang dimuka.
Jika kedua lokomotip tersebut dilengkapi dengan rem udara tekan dan melayani kereta api dengan rem udara tekan, maka masinis lok kedua tidak perlu melayani abar rangkaian maupun abar lokomotip dan handel rem ditempatkan pada ke dudukan tidak bekerja. Dalam keadaan memaksa masinis lok kedua boleh menggunakan rem udara tekan.
Jika kedua lokomotip tersebut dilengkapi dengan rem pakem dan melayani kereta api dengan rem pakem maka masinis lok kedua tidak perlu melayani abar rangkaian dan handel rem ditempatkan pada kedudukan tidak bekerja. Dalam keadaan memaksa masinis lok kedua boleh menggunakan rem pakem.
Sewaktu berangkat, lokomotip yang di muka bergerak terlebih dulu. Sewaktu kereta api akan berhenti masinis yang kedua menutup "throttle" lebih dulu. Kedua masinis masing-masing harus mempunyai tabel kereta api dan LHM.
Masinis lokomotip yang di muka mengatur jalannya kereta api dan memberikan semboyan yang telah ditentukan dengan klakson. Pemberitahuan mengenai perjalanan kereta api (misalnya hal-hal luar biasa yang perlu dicatat oleh PPKA pada LHM) hanya ditulis dalam LHM dari lokomotip yang di muka. Hal itu tidak membebaskan masinis dan juru motor lokomotip kedua (lokomotip yang dibelakang) dari kewajibananya untuk memperhatikan semboyan tetap.
Masinis yang ke dua bertanggung jawab atas perjalanan kereta api tetapi hanya mengenai hal yang diketahuinya tentang kereta api dan lintasan yang bersangkutan dan hanya dibolehkan memberikan semboyan bahaya jika mengetahui suatu bahaya lebih dulu dari pada masinis yang di muka. Harus tunduk kepada semboyan dan petunjuk yang diberikan kepadanya oleh masinis lokomotip yang di muka. Kedua masinis mempunyai kewajiban yang sama terhadap kedudukan semboyan tetap. Tanggung jawab atas pemeriksaan persilangan dan pemindahan persilangan diserahkan kepada masinis lokomotip yang di muka.
Pada lokomotip besar ada perlengkapan yang memungkinkan dua lokomotip sejenis jalan ganda dilayani hanya oleh satu masinis dengan ketentuan pada lok yang berjalan dibelakang tetap perlu dilayani oleh satu masinis atau satu juru motor, untuk pemeriksaan dan pencatatan sewaktu-waktu keadaan motor diesel, transmisi dan peralatan bantu beserta pemeriksaan kebocoran-kebocoran pipa minyak, pelumas ataupun pipa udara / hampa. Jika terdapat keadaan yang membahayakan keadaan lokomotip yang dijaganya (belakang) harus berusaha untuk memberitahukan kepada masinis yang dinas pada lok depan.
Jumat, 27 Januari 2012
Railway Network Plan in Java | English Version | Rencana Jaringan Jalur Kereta Api di Pulau Jawa
Target
the development of railway network on the island of Java is to optimize
the existing network through program improvement, rehabilitation,
reactivation of cross nonoperasi and increasing traffic capacity through
the construction of double track and shortcuts.In
the Year 2030 is planned to be built in stages of railway
infrastructure including track, stations and trains operating
facilities, among others include:
Network development and inter-city rail services, including construction of new lines including double track (double track) and shortcuts such as double lane traffic north (Cirebon - Semarang - Bojonegoro - Surabaya), double lane traffic south (Cirebon - Prupuk - Purwokerto - Kroya - Kutoarjo - Solo - Madiun - Surabaya), a dual-channel Surabaya - Jember - Banyuwangi and Bangil - Malang - Blitar - Kertosono, construction of new lines of Sidoarjo – Tulangan – Gunung Gangsirconstruction shortcuts Parungpanjang - Citayam - Nambo - Cikarang - Tanjungpriok, shortcut Cibungur - Tanjungrasa, shortcuts Lebeng - Kalisabuk.
Network development and regional rail service to cities such agglomerations: Greater Jakarta (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Jakarta, Depok, Tangerang), Joglosemar (Yogyakarta, Solo, Semarang), Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, Purwodadi), Gerbangkertosusilo (Gresik, Bangkalan, Mojokerjo, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan).
Development and urban rail services, including the cities: Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta and Malang.
Network development and rail service that connects downtown to the airport, including: Soekarno - Hatta (Jakarta), Adi Sucipto (Yogyakarta), Adisumarmo (Solo), Juanda (Surabaya), Kertajati (West Java) and Ahmad Yani (Semarang) ,
Network development and rail service linking the area of natural resources or production area by the port include: Tanjungpriok (DKI Jakarta), Cirebon (West Java), Tanjung Perak (East Java), the Tanjung Emas (Central Java), Bojonegara (Bantam), Development Railway lines cross Karawang - cilamaya.
Network development and fast train services (High Speed Train) on the cross: Merak – Jakarta – Cirebon – Semarang – Surabaya – Banyuwangi.
Increased capacity of rail network through the construction of double track and electrification include cross: Duri - Tangerang, Serpong - Maja - Rangkasbitung - Merak, Manggarai - Jatinegara - Jakarta - Cikarang, Padalarang - Bandung - Cicalengka. Electrification of cross Kutoarjo - Yogyakarta - Solo.
Reactivation and enhancement (Revitalization) pathway involves cross KA: Sukabumi – Cianjur – Padalarang, Cicalengka – Jatinangor – Tanjungsari, Cirebon – Kadipaten, Banjar – Cijulang, Purwokerto – Wonosobo, Semarang – Demak – Juana – Rembang, Kedungjati – Ambarawa, Jombang – Babat – Tuban, Kalisat – Panarukan, Madiun – Slahung and Sidoarjo – Tulangan – Tarik.
Pioneering the development of rail service.
Development of signaling systems, telecommunications and electricity.
Development of material storage systems (including warehousing) as well as equipment testing and maintenance of railway infrastructure.
Development of the railway station including park and ride facilities at strategic centers of national, provincial and regency / city.
High Speed Train Network Map Banyuwangi Merak
RIPNas HST
Railway Network Plan for Western Java
Jabar RIPNas
Railway Network Plan for Central Java
RIPNas Java
Railway Network Plan for Eastern Java
RIPNas JavaSources : RIPNas 2011 - Kementrian Perhubungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian
Sources : click here
Network development and inter-city rail services, including construction of new lines including double track (double track) and shortcuts such as double lane traffic north (Cirebon - Semarang - Bojonegoro - Surabaya), double lane traffic south (Cirebon - Prupuk - Purwokerto - Kroya - Kutoarjo - Solo - Madiun - Surabaya), a dual-channel Surabaya - Jember - Banyuwangi and Bangil - Malang - Blitar - Kertosono, construction of new lines of Sidoarjo – Tulangan – Gunung Gangsirconstruction shortcuts Parungpanjang - Citayam - Nambo - Cikarang - Tanjungpriok, shortcut Cibungur - Tanjungrasa, shortcuts Lebeng - Kalisabuk.
Network development and regional rail service to cities such agglomerations: Greater Jakarta (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Jakarta, Depok, Tangerang), Joglosemar (Yogyakarta, Solo, Semarang), Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, Purwodadi), Gerbangkertosusilo (Gresik, Bangkalan, Mojokerjo, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan).
Development and urban rail services, including the cities: Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta and Malang.
Network development and rail service that connects downtown to the airport, including: Soekarno - Hatta (Jakarta), Adi Sucipto (Yogyakarta), Adisumarmo (Solo), Juanda (Surabaya), Kertajati (West Java) and Ahmad Yani (Semarang) ,
Network development and rail service linking the area of natural resources or production area by the port include: Tanjungpriok (DKI Jakarta), Cirebon (West Java), Tanjung Perak (East Java), the Tanjung Emas (Central Java), Bojonegara (Bantam), Development Railway lines cross Karawang - cilamaya.
Network development and fast train services (High Speed Train) on the cross: Merak – Jakarta – Cirebon – Semarang – Surabaya – Banyuwangi.
Increased capacity of rail network through the construction of double track and electrification include cross: Duri - Tangerang, Serpong - Maja - Rangkasbitung - Merak, Manggarai - Jatinegara - Jakarta - Cikarang, Padalarang - Bandung - Cicalengka. Electrification of cross Kutoarjo - Yogyakarta - Solo.
Reactivation and enhancement (Revitalization) pathway involves cross KA: Sukabumi – Cianjur – Padalarang, Cicalengka – Jatinangor – Tanjungsari, Cirebon – Kadipaten, Banjar – Cijulang, Purwokerto – Wonosobo, Semarang – Demak – Juana – Rembang, Kedungjati – Ambarawa, Jombang – Babat – Tuban, Kalisat – Panarukan, Madiun – Slahung and Sidoarjo – Tulangan – Tarik.
Pioneering the development of rail service.
Development of signaling systems, telecommunications and electricity.
Development of material storage systems (including warehousing) as well as equipment testing and maintenance of railway infrastructure.
Development of the railway station including park and ride facilities at strategic centers of national, provincial and regency / city.
High Speed Train Network Map Banyuwangi Merak
RIPNas HST
Railway Network Plan for Western Java
Jabar RIPNas
Railway Network Plan for Central Java
RIPNas Java
Railway Network Plan for Eastern Java
RIPNas JavaSources : RIPNas 2011 - Kementrian Perhubungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian
Sources : click here
Minggu, 27 November 2011
NOMOR ALAY KERETA API INDONESIA
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN
NOMOR : KM. 45 TAHUN 2010
TANGGAL 21 JULI 2010
CONTOH PENULISAN IDENTITAS SARANA PERKERETAAPIAN
1. LOKOMOTIF
A.
Keterangan :
CC : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Lokomotif menggunakan 2 Bogie dengan masing-masing 3 gandar penggerak
201 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Lokomotif Diesel Elektrik Seri tipe 01
78 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Lokomotif mulai dioperasikan di Indonesia tahun 1978
01 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Lokomotif dengan Nomor urut 01
B.
Keterangan :
D : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Lokomotif tanpa Bogie dengan 4 gandar penggerak
300 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Lokomotif Diesel Hidrolik Seri Tipe 00
68 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Lokomotif mulai dioperasikan di Indonesia tahun 1968
02 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Lokomotif dengan Nomor urut 02
2. KERETA :
A.
Keterangan :
K1 : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Kereta dilengkapi fasilitas Ruang Penumpang kelas eksekutif
1 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta Rel Listrik (KRL)
05 : Tahun Sarana Perkeretaapian
KRL mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2005
03 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. KRL dengan Nomor urut 03
B.
Keterangan :
K3 : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Kereta dilengkapi fasilitas Ruang Penumpang kelas Ekonomi
2 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE)
05 : Tahun Sarana Perkeretaapian
KRDE mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2005
04 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. KRDE dengan Nomor urut 04
C.
Keterangan :
K3 : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Kereta dilengkapi fasilitas Ruang Penumpang kelas ekonomi
3 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta Rel Diesel Hidrolik (KRDH)
06 : Tahun Sarana Perkeretaapian
KRDH mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2006
05 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. KRDH dengan Nomor urut 05
D.
Keterangan :
K3 : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Kereta dilengkapi fasilitas Ruang Penumpang kelas ekonomi
0 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta ditarik lokomotif
08 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Kereta mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2008
06 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Kereta dengan Nomor urut 06
E.
Keterangan :
K3 : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Kereta dilengkapi fasilitas Ruang Penumpang kelas ekonomi, ruang makan ekonomi, dan ruang pembangkit listrik
0 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta ditarik lokomotif
09 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Kereta mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2009
07 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Kereta dengan Nomor urut 07
3. GERBONG
Keterangan :
GD : Kodefikasi jenis sarana perkeretaapian. Gerbong Datar
40 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Gerbong Datar dengan berat muat 40 ton
78 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Gerbong Datar mulai dioperasikan di Indonesia tahun 1978
08 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Gerbong Datar dengan Nomor urut 08
4. PERALATAN KHUSUS
A.
Keterangan :
SI : Kodefikasi jenis sarana perkeretaapian. Peralatan khusus jenis kereta Inspeksi
3 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta Inspeksi dengan penggerak sendiri Diesel Hidrolik
09 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Kereta Inspeksi mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2009
01 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Kereta Inspeksi Datar dengan Nomor urut 01
B.
Keterangan :
SU : Kodefikasi jenis sarana perkeretaapian. Peralatan khusus jenis kereta Ukur
0 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta Ukur ditarik Lokomotif
08 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Kereta Ukur mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2008
02 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Kereta Ukur Datar dengan Nomor urut 02
MENTERI PERHUBUNGAN
Ttd
FREDDY NUMBERI
NOMOR : KM. 45 TAHUN 2010
TANGGAL 21 JULI 2010
CONTOH PENULISAN IDENTITAS SARANA PERKERETAAPIAN
1. LOKOMOTIF
A.

CC : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Lokomotif menggunakan 2 Bogie dengan masing-masing 3 gandar penggerak
201 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Lokomotif Diesel Elektrik Seri tipe 01
78 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Lokomotif mulai dioperasikan di Indonesia tahun 1978
01 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Lokomotif dengan Nomor urut 01
B.

D : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Lokomotif tanpa Bogie dengan 4 gandar penggerak
300 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Lokomotif Diesel Hidrolik Seri Tipe 00
68 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Lokomotif mulai dioperasikan di Indonesia tahun 1968
02 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Lokomotif dengan Nomor urut 02
2. KERETA :
A.

K1 : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Kereta dilengkapi fasilitas Ruang Penumpang kelas eksekutif
1 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta Rel Listrik (KRL)
05 : Tahun Sarana Perkeretaapian
KRL mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2005
03 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. KRL dengan Nomor urut 03
B.

K3 : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Kereta dilengkapi fasilitas Ruang Penumpang kelas Ekonomi
2 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE)
05 : Tahun Sarana Perkeretaapian
KRDE mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2005
04 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. KRDE dengan Nomor urut 04
C.

K3 : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Kereta dilengkapi fasilitas Ruang Penumpang kelas ekonomi
3 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta Rel Diesel Hidrolik (KRDH)
06 : Tahun Sarana Perkeretaapian
KRDH mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2006
05 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. KRDH dengan Nomor urut 05
D.

K3 : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Kereta dilengkapi fasilitas Ruang Penumpang kelas ekonomi
0 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta ditarik lokomotif
08 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Kereta mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2008
06 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Kereta dengan Nomor urut 06
E.

K3 : Kodefikasi Jenis sarana Perkeretaapian
Kereta dilengkapi fasilitas Ruang Penumpang kelas ekonomi, ruang makan ekonomi, dan ruang pembangkit listrik
0 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta ditarik lokomotif
09 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Kereta mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2009
07 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Kereta dengan Nomor urut 07
3. GERBONG

GD : Kodefikasi jenis sarana perkeretaapian. Gerbong Datar
40 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Gerbong Datar dengan berat muat 40 ton
78 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Gerbong Datar mulai dioperasikan di Indonesia tahun 1978
08 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Gerbong Datar dengan Nomor urut 08
4. PERALATAN KHUSUS
A.

SI : Kodefikasi jenis sarana perkeretaapian. Peralatan khusus jenis kereta Inspeksi
3 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta Inspeksi dengan penggerak sendiri Diesel Hidrolik
09 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Kereta Inspeksi mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2009
01 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Kereta Inspeksi Datar dengan Nomor urut 01
B.

SU : Kodefikasi jenis sarana perkeretaapian. Peralatan khusus jenis kereta Ukur
0 : Klasifikasi Sarana Perkeretaapian
Kereta Ukur ditarik Lokomotif
08 : Tahun Sarana Perkeretaapian
Kereta Ukur mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2008
02 : Nomor Urut Sarana Perkeretaapian. Kereta Ukur Datar dengan Nomor urut 02
MENTERI PERHUBUNGAN
Ttd
FREDDY NUMBERI
Daftar Lokomotif Uap Yang Pernah Ada Di Indonesia
Berikut adalah daftar Loko Uap yang pernah ada di Indonesia :
• Dipo Lok Jatinegara:
C28-01,04,14,23,25,26,54,55
D14-01,10,12,14,17,18,19,20,21,22
D52-01,06,08,12,13,27,28,31,33,38,40,50,52,56,58,59,66,68,99
• Dipo Lok Tanah Abang:
B13-03
B51-03,11
C11-25
C12-20
C27-01,80,09,10,11,15,16,20,21,23,30,38,39
CC10-09
• Dipo Lok Rangkas Bitung:
B51-24,26,31,32,35
BB10-05
CC10-13,21,30
• Dipo Lok Karawang:
B51-05
C11-16,19
TC10-01,04,08,11,12,13,15 (lebar spoor 600mm)
TD 100-01,02,03 (lebar spoor 600mm)
• Dipo Lok Cirebon:
B13-01,04,07
B50-08,10
C11-02,09,27
C21-04
C28-16,32,33,56
D52-02,05,14,34,36,42,48,51,60,69,82,97,98,99
• Dipo Lok Purwakarta:
B13-09
C11-39
C28-17,20,28
CC10-07
CC50-08,24
D14-02,03,05
• Dipo Lok Cianjur:
C10-14
D14-04,07,08,09,11,13,16,23
• Dipo Lok Cibatu:
CC10-12,18,22,23,32
CC50-10,17,30
DD52-02,03,07,08
• Dipo Lok Banjar:
BB10-02,09,10,14
C11-18,31
CC50-23,26
D52-23,61,62,80,83,100
• Dipo Lok Purwokerto:
B52-23
C12-01,24
D14-11
C28-05,08,10,11,13,44,52,58
CC50-05,06,11,12,13,14,20,22,25,27,29
D15-02,03
• Dipo lokomotif Kutoarjo:
C27-03,05,06,14,25,28
C51-06,08
C54-17,19
D51-06
D52-53,63,78
• Sub Dipo Lok Cilacap:
C11-23,24,40
C28-47,50
D10-08,09
• Dipo Lok Tegal:
B52-12,13,14,20,26
C54-01,10
D10-02,07
D15-05
• Dipo Lok Semarang:
B20-11,14,17,22 (Trem)
C19-12
C12-40
• Dipo Lok Cepu:
B51-12,13,17,38,39
C28-21,27,30,35,40,41,42,46,53
C51-02,03,04,05,07,08,09
C25-02
• Dipo Lok Yogyakarta:
C24-01,02,03,07,08,13,15
C28-39
D52-11,22,25,41,45,54,64,74,75,84,85,86,87,95,96
• Dipo Lok Solo:
B22-10,11
C17-02,04
C20-01,07,10
C28-02,03,12,15,19,36,37,45,51,57
• Dipo Lok Ambarawa:
B25-01,02,03,05
C24-10,12
BB10-12
CC50-03,07
• Dipo Lok Gundih:
B22-14
C17-01,C18-01,C19-08,C23-01
• Dipo Lok Kudus:
B22-07
B27-02,03
B52-02,03,04,06,07,10,17,22,25
• Dipo Lok Purwodadi:
B22-01,04,08,09,20
B27-10,04,05,60,70,08,09,10,11,12,16
C19-01,10
• Dipo Lok Blora:
C12-06,18,36,37
C16-02,04
C20-03
• Dipo Lok Madiun:
B21-03
B50-01,02,03,04,06,07,11,12,14
B53-01,07,08,10,11
C25-05
CC50-10,15
D52-14,15,16,17,18,19,21,26,43,46,49,76,77,92,93
• Dipo Lok Kertosono:
B17-03,06,07
B53-04,05
C11-04,13,22,33,35,36
C27-24,26
C28-34
F10-04,08
• Dipo Lok Pare:
B15-03,08,10
B23-01
B26-01
C26-04,06
• Dipo Lok Sidotopo:
C11-06,17
C28-24,31
C32-01,02
CC50-04,16,18
D14-06,15
D52-09,65,67,70,71,72,73,81,88,89,90,91,94
• Dipo Lok Wonokromo:
B12-08,21,39,40,42
C19-03,06
• Dipo Lok Mojokerto:
B13-02,05,06,10
B16-01,06
B21-02,04
C22-03
C26-09
• Dipo Lok Babat:
B51-15,25,33
B53-02,03,05,09
C11-21,32
• Dipo Lok Kamal (Madura):
C26-02,03,05,10
C31-10,17
D16-08
D17-02
• Dipo Lok Bangil (Madura):
C21-02,03,05
F10-07,17
• Dipo Lok Malang:
B24-01
C11-01,26
C27-19,31
C28-09,48
D11-02,03,05,07,08,09,10,11
F10-05,13,16
• Dipo Lok Blitar:
B19-01,03,04
C27-02,34
C28-06,07,22,29,38,43,49
F10-05,12,19
• Dipo Lok Jember:
C11-05
C12-21
C27-07,12,13,18,32,36
CC10-03,12,17
D50-13,23,33,34,35,38
D51-01
F10-18
• Dipo Lok Klakah:
C12-22,33,42
C27-04,27
CC10-01,08,20,26,29
F10-02,06,10,11,12
TC 10-10 (lebar spoor 600mm)
• Dipo Lok Jati (Probolinggo):
C25-01,06
TC 10-09 (lebar spoor 600mm)
• Dipo Lok Banyuwangi:
C12-23
C15-10
TC10-06 (lebar spoor 600mm)
• Dipo Lok Sigli (NAD):
BB 71,76
D1-01,03,04,05,10
• Dipo Lok Banda Aceh:
BB 74,81,84
C 47,60
• Dipo Lok Langsa:
C 42,54,56
C 71,72,73,75,76,77
D1-06,12
• Dipo Lok Lhokseumawe:
C 61
D1-09
• Dipo Lok Medan (penamaan menggunakan model Jerman):
0-4-4T no.1 & 27
0-4-2T no. 14
2-4-2T 60,61,62,66
2-4-4T 17,22,25
2-6-4T 32
C54-05,11
• Dipo Lok Kisaran:
0-4-4T 28
2-4-4T 20
2-6-4T 34,38,44,50,51,53,54,58,59
C54-09
• Dipo Lok Tebing Tinggi
2-4-2T 65,67,69
2-6-4T 33,35,41,55,57
• Dipo Lok Padang:
C19-05,07
C30-91,92,93
C33-20,21,22,25,27,28,31,33
E10-66
• Dipo Lok Padang Panjang:
E10-07,16,18,54,55,57,58,59,62,63,64,65,67
• Dipo Lok Solok:
C33-17,18,30,34,36,39
F10-15,24,25
• Dipo Lok Tanjung Karang:
B51-51
C11-11,34,53,55
C30-71,74,76,78,79
C50-02,03,04,05,11,52,53,55
D50-01,02,05,10,18,22,26,31,52,53,54,57,61
• Dio Lok Lahat:
C11-03
C30-09,62,63,66,67,68,69,70,77,81,82,83
B16-08
• Dipo Lok Tanjung Enim:
B50-52
C30-72
D50-04,08,14,16,17,20,21,30,51,55,59,62,63,64,65,68
D52-10,37
• Dipo Lok Kertapati:
B22-12
B50-51,53
B51-52,53,54
C11-08,20,29,51,54
C30-64,65,73,75
C50-01,54
D50-07,09,11,23,25,27,32,56,60
D52-04,07,20,29,32,35,39,47
Sumber edansepur
• Dipo Lok Jatinegara:
C28-01,04,14,23,25,26,54,55
D14-01,10,12,14,17,18,19,20,21,22
D52-01,06,08,12,13,27,28,31,33,38,40,50,52,56,58,59,66,68,99
• Dipo Lok Tanah Abang:
B13-03
B51-03,11
C11-25
C12-20
C27-01,80,09,10,11,15,16,20,21,23,30,38,39
CC10-09
• Dipo Lok Rangkas Bitung:
B51-24,26,31,32,35
BB10-05
CC10-13,21,30
• Dipo Lok Karawang:
B51-05
C11-16,19
TC10-01,04,08,11,12,13,15 (lebar spoor 600mm)
TD 100-01,02,03 (lebar spoor 600mm)
• Dipo Lok Cirebon:
B13-01,04,07
B50-08,10
C11-02,09,27
C21-04
C28-16,32,33,56
D52-02,05,14,34,36,42,48,51,60,69,82,97,98,99
• Dipo Lok Purwakarta:
B13-09
C11-39
C28-17,20,28
CC10-07
CC50-08,24
D14-02,03,05
• Dipo Lok Cianjur:
C10-14
D14-04,07,08,09,11,13,16,23
• Dipo Lok Cibatu:
CC10-12,18,22,23,32
CC50-10,17,30
DD52-02,03,07,08
• Dipo Lok Banjar:
BB10-02,09,10,14
C11-18,31
CC50-23,26
D52-23,61,62,80,83,100
• Dipo Lok Purwokerto:
B52-23
C12-01,24
D14-11
C28-05,08,10,11,13,44,52,58
CC50-05,06,11,12,13,14,20,22,25,27,29
D15-02,03
• Dipo lokomotif Kutoarjo:
C27-03,05,06,14,25,28
C51-06,08
C54-17,19
D51-06
D52-53,63,78
• Sub Dipo Lok Cilacap:
C11-23,24,40
C28-47,50
D10-08,09
• Dipo Lok Tegal:
B52-12,13,14,20,26
C54-01,10
D10-02,07
D15-05
• Dipo Lok Semarang:
B20-11,14,17,22 (Trem)
C19-12
C12-40
• Dipo Lok Cepu:
B51-12,13,17,38,39
C28-21,27,30,35,40,41,42,46,53
C51-02,03,04,05,07,08,09
C25-02
• Dipo Lok Yogyakarta:
C24-01,02,03,07,08,13,15
C28-39
D52-11,22,25,41,45,54,64,74,75,84,85,86,87,95,96
• Dipo Lok Solo:
B22-10,11
C17-02,04
C20-01,07,10
C28-02,03,12,15,19,36,37,45,51,57
• Dipo Lok Ambarawa:
B25-01,02,03,05
C24-10,12
BB10-12
CC50-03,07
• Dipo Lok Gundih:
B22-14
C17-01,C18-01,C19-08,C23-01
• Dipo Lok Kudus:
B22-07
B27-02,03
B52-02,03,04,06,07,10,17,22,25
• Dipo Lok Purwodadi:
B22-01,04,08,09,20
B27-10,04,05,60,70,08,09,10,11,12,16
C19-01,10
• Dipo Lok Blora:
C12-06,18,36,37
C16-02,04
C20-03
• Dipo Lok Madiun:
B21-03
B50-01,02,03,04,06,07,11,12,14
B53-01,07,08,10,11
C25-05
CC50-10,15
D52-14,15,16,17,18,19,21,26,43,46,49,76,77,92,93
• Dipo Lok Kertosono:
B17-03,06,07
B53-04,05
C11-04,13,22,33,35,36
C27-24,26
C28-34
F10-04,08
• Dipo Lok Pare:
B15-03,08,10
B23-01
B26-01
C26-04,06
• Dipo Lok Sidotopo:
C11-06,17
C28-24,31
C32-01,02
CC50-04,16,18
D14-06,15
D52-09,65,67,70,71,72,73,81,88,89,90,91,94
• Dipo Lok Wonokromo:
B12-08,21,39,40,42
C19-03,06
• Dipo Lok Mojokerto:
B13-02,05,06,10
B16-01,06
B21-02,04
C22-03
C26-09
• Dipo Lok Babat:
B51-15,25,33
B53-02,03,05,09
C11-21,32
• Dipo Lok Kamal (Madura):
C26-02,03,05,10
C31-10,17
D16-08
D17-02
• Dipo Lok Bangil (Madura):
C21-02,03,05
F10-07,17
• Dipo Lok Malang:
B24-01
C11-01,26
C27-19,31
C28-09,48
D11-02,03,05,07,08,09,10,11
F10-05,13,16
• Dipo Lok Blitar:
B19-01,03,04
C27-02,34
C28-06,07,22,29,38,43,49
F10-05,12,19
• Dipo Lok Jember:
C11-05
C12-21
C27-07,12,13,18,32,36
CC10-03,12,17
D50-13,23,33,34,35,38
D51-01
F10-18
• Dipo Lok Klakah:
C12-22,33,42
C27-04,27
CC10-01,08,20,26,29
F10-02,06,10,11,12
TC 10-10 (lebar spoor 600mm)
• Dipo Lok Jati (Probolinggo):
C25-01,06
TC 10-09 (lebar spoor 600mm)
• Dipo Lok Banyuwangi:
C12-23
C15-10
TC10-06 (lebar spoor 600mm)
• Dipo Lok Sigli (NAD):
BB 71,76
D1-01,03,04,05,10
• Dipo Lok Banda Aceh:
BB 74,81,84
C 47,60
• Dipo Lok Langsa:
C 42,54,56
C 71,72,73,75,76,77
D1-06,12
• Dipo Lok Lhokseumawe:
C 61
D1-09
• Dipo Lok Medan (penamaan menggunakan model Jerman):
0-4-4T no.1 & 27
0-4-2T no. 14
2-4-2T 60,61,62,66
2-4-4T 17,22,25
2-6-4T 32
C54-05,11
• Dipo Lok Kisaran:
0-4-4T 28
2-4-4T 20
2-6-4T 34,38,44,50,51,53,54,58,59
C54-09
• Dipo Lok Tebing Tinggi
2-4-2T 65,67,69
2-6-4T 33,35,41,55,57
• Dipo Lok Padang:
C19-05,07
C30-91,92,93
C33-20,21,22,25,27,28,31,33
E10-66
• Dipo Lok Padang Panjang:
E10-07,16,18,54,55,57,58,59,62,63,64,65,67
• Dipo Lok Solok:
C33-17,18,30,34,36,39
F10-15,24,25
• Dipo Lok Tanjung Karang:
B51-51
C11-11,34,53,55
C30-71,74,76,78,79
C50-02,03,04,05,11,52,53,55
D50-01,02,05,10,18,22,26,31,52,53,54,57,61
• Dio Lok Lahat:
C11-03
C30-09,62,63,66,67,68,69,70,77,81,82,83
B16-08
• Dipo Lok Tanjung Enim:
B50-52
C30-72
D50-04,08,14,16,17,20,21,30,51,55,59,62,63,64,65,68
D52-10,37
• Dipo Lok Kertapati:
B22-12
B50-51,53
B51-52,53,54
C11-08,20,29,51,54
C30-64,65,73,75
C50-01,54
D50-07,09,11,23,25,27,32,56,60
D52-04,07,20,29,32,35,39,47
Sumber edansepur
Sabtu, 12 November 2011
Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat
Pendahuluan
v IDENTITAS BUKU
Judul : Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat
Penulis : Mira W.
Desain Sampul : Delia Marsono
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 1982
Kota Terbit : Jakarta
Cetakan : Ke-9
Tahun Cetakan : September 2009
Tebal Buku : 240 halaman (1,1 cm)
Ukuran Buku : 18 cm x 10,6 cm
Diresensu oleh : Aryen Riki Wijaya
ISI
Cinta adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Ketika cinta datang, tidak ada seorang pun yang mampu menolak kehadirannya. Namun cinta juga merupakan titipan Tuhan. Ketika cinta itu harus pergi, tidak ada satu orang pun yang mampu mencegahnya. Pahit dan menyakitkan memang rasanya! Ada pepatah yang mengatakan, “ Jika kamu telah siap untuk jatuh cinta, maka bersiaplah pula untuk jatuh karena cinta”.
Judul buku ini memang sangat tepat karena memiliki makna yang sangat dalam dan berhubungan langsung dengan isi buku ini. Sangat cocok dengan tema yang dipilih penulis yaitu ‘’Percintaan’’.Cinta memang seharusnya seperti kereta yang panjang, kuat, tidak pernah putus dan pantang menyerah sebelum mengantarkan penumpang sampai tujuan dengan selamat.
Arini amat bersyukur memiliki seorang sahabat sebaik Ira. Jika bukan karena kebaikan dan kepedulian Ira, tentunya ia tidak akan pernah mengenal seorang Helmi. Arini sangat menyukai ketampanan dan kewibawaan Helmi. Bagi Arini,Helmi bagaikan penjelmaan pangeran dalam mimpi Arini selama ini. Akhinya mereka pun terikat dalan sebuah pernikahan. Selama dua minggu Arini dan Helmi menghabiskan waktu mereka di Paris. Bulan Madu ke Paris merupakan kado pernikahan dari Hadi, suami Ira. Keindahan Paris menjadi saksi kelembutan dan kecintaan Arini kepada Helmi.
Kebahagian Arini mulai hilang ketika dirinya dan Helmi kembali tiba di Indonesia. Helmi lebih suka menghabiskan waktunya untuk lembur di kantor dibandingkan menemani Arini di rumah. Arini sangat menghormati dan mencintai suaminya. Pada suatu hari, Arini menelepon kantor Helmi untuk mengabarkan kalau dirinya sedang hamil.
Hati Arini hancur berkeping-keping saat Ira mengakui bahwa dirinya sengaja menyuruh Helmi untuk menikah dengan Arini supaya perselingkuhan antara Ira dan Helmi tidak dicurigai oleh Hadi. Arini pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Helmi dan Ira sejauh mungkin. Setelah anak yang dikandungnya lahir, Arini menyerahkan anak itu pada Helmi. Dan mereka pun bercerai.
Sekarang, Arini memulai hidup barunya di Jerman.Di Jerman, di kabin penumpang kereta kelas eksekutif, Arini bertemu dengan seorang Nick, pria Indonesia yang sepuluh tahun lebih muda darinya. Semenjak kehadiran Nick, hidup Arini mulai berwarna. Bagi Arini, Nick lebih cocok menjadi anaknya dibandingkan menjadi seorang kekasih.
Setelah berhasil meraih gelar impiannya, Arini kembali ke Indonesia Di saat Arini menjabat sebagai Marketing Manager, bayangan masa lalunya kembali menghampirinya. Kini ia harus menerima kalau bekas suaminya, Helmi, adalah bawahannya.
Beberapa minggu berada dalam satu kantor bersama Helmi membuat Arini akhirnya tahu bahwa bekas suaminya itu sering korupsi.Di saat pikiran Arini bingung karena memikirkan masalah penggelapan uang yang dilakukan Helmi, Nick sengaja menyusul Arini ke Indonesia. Arini sangat bahagia. Banyak waktu yang ia habiskan bersama Nick.
Suatu malam, Helmi meminta Arini untuk memberikan satu ginjalnya pada Ella , anak yang dulu Arini berikan pada Helmi. Arini pun menjalani operasi pencangkokan ginjal. Nick tidak bisa menemani Arini melalui masa operasinya karena harus kembali ke London. Setelah operasi pencangkokan ginjal dilakukan, Arini berharap Helmi akan memberikan Ella padanya. Tapi, Ella lebih mengenal Ira sebagai ibunya. Bukan Arini. Akhirnya Arini memutuskan untuk menyusul Nick ke London. Di sana Arini dan Nick memulai hidup baru mereka sebagai suami-istri.
Tujuan penulisan buku ini yaitu untuk memberi gambaran kepada pembaca tentang kehidupan percintaan di jaman modern ini.Tentang maraknya perselingkuhan karena begitu banyaknya wanita di dunia ini.Gaya penulisan buku ini sangat luwes dan mudah dipahami karena menggunakan bahasa sehari-hari.Buku ini sangat menonjol dibandingkan buku percintaan yang pernah ada. Karena ditulis oleh penulis terkenal yaitu Mira W. yang telah menulis beberapa buku yang tidak kalah bagusnya.
PENUTUP
Mira W. (penulis yang telah banyak menulis novel-novel populer seperti Sampai Maut Memisahkan Kita,Dari Jendela SMP,Kupinjam Napas Iblis dan puluhan novel lainnya) dengan pintar mendeskripsikan perasaan serta perang batin yang dirasakan Arini ketika jatuh cinta kepada Nick. Kisah cinta Arini dan Nick, bukanlah suatu kisah yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Mungkin saja kisah cinta yang serupa dengan kisah ini benar-benar terjadi atau ada dalam lingkungan sekitar kita. Inilah kelebihan yang dimiliki “Masih Ada Kerteta Yang Akan Lewat”. Cerita yang disajikan fresh, menarik, dan tidak sekedar kebohongan belaka.
Penulis terkesan tidak jelas menjelaskan karakter tokoh Arini. Tokoh Arini digambarkan sebagai tokoh yang baik, lembut, serta berpendirian kuat. Ia sangat memegang teguh amanat dari sang ibu. Namun di saat Arini harus merasakan sakit karena pengkhianatan suami dan sahabatnya, Arini terpuruk. Bahkan ia sangat membenci janin yang tengah dikandungnya. Setelah bayi itu lahir, Arini pun menyerahkannya pada Helmi. Dan setelah bayi itu tumbuh menjadi seorang anak manis, Arini berkeinginan untuk memilikinya kembali.
Novel ini mampu membuat pembaca nyaman untuk membaca karena merasa penasaran akan akhir cerita. Novel ini memberi beberapa pelajaran yang bermanfaat untuk pembaca, anatara lain memberikan pesan pada kita bahwa perselingkuhan merupakan suatu kesalahan besar yang akhirnya akan membawa pada sebuah penyesalan dan penderitaan diri dan persahabatan itu berharga mahal sehingga tidak pantas untuk dikotori dengan sebuah pengkhianatan.Kedua, memberikan inspirasi pada kita untuk menjadi orang yang tegar dalam menghadapi permasalahan dalam kehidupan, menjadi orang yang tidak pernah berputus asa sebab disetiap kesulitan pasti ada kemudahan, serta menjadi orang yang pemaaf meski kita pernah disakiti oleh orang yang sangat kita percayai sekali pun.Membaca utuh novel “Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat “ ini tidak akan merugi. Mengingat banyaknya pelajaran yang bermanfaat yang dapat kita peroleh darinya .Rekomendasi saya kepada pembaca yaitu pembaca sebaiknya membaca buku ini dalam keadaan tenang karena akan lebih menghayati makna yang terkandung dalam buku ini.Buku ini juga tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan buku popular sejenis yang menyajikan cerita yang menarik.
Kamis, 27 Oktober 2011
Tentang Lokomotif
Lokomotif
Lokomotif diesel hidrolik seri BB304
Lokomotif adalah bagian dari rangkaian kereta api di mana terdapat mesin untuk menggerakkan kereta api. Biasanya lokomotif terletak paling depan dari rangkaian kereta api. Operator dari lokomotif disebut masinis. Masinis menjalankan kereta api berdasarkan perintah dari pusat pengendali perjalanan kereta api melalui sinyal yang terletak di pinggir jalur rel.
Jenis lokomotif berdasarkan mesin
Berdasarkan mesinnya, lokomotif terbagi menjadi
- Lokomotif uap. Merupakan cikal bakal mesin kereta api. Uap yang dihasilkan dari pemanasan air yang terletak di ketel uap digunakan untuk menggerakkan torak atau turbin dan selanjutkan disalurkan ke roda. Bahan bakarnya bisanya dari kayu bakar atau batu bara.
- Lokomotif diesel mekanis. Menggunakan mesin diesel sebagai sumber tenaga yang kemudian ditransfer ke roda melalui transmisi mekanis. Lokomotif ini biasanya bertenaga kecil dan sangat jarang karena keterbatasan kemampuan dari transmisi mekanis untuk dapat mentransfer daya.
- Lokomotif diesel elektrik. Merupakan lokomotif yang paling banyak populasinya. Mesin diesel dipakai untuk memutar generator agar mendapatkan energi listrik. Listrik tersebut dipakai untuk menggerakkan motor listrik besar yang langsung menggerakkan roda.
- Lokomotif diesel hidrolik. Lokomotif ini menggunakan tenaga mesin diesel untuk memompa oli dan selanjutnya disalurkan ke perangkat hidrolik untuk menggerakkan roda. Lokomotif ini tidak sepopuler lokomotif diesel elektrik karena perawatan dan kemungkinan terjadi problem besar.
- Lokomotif listrik. Lokomotif ini nomor dua paling populer setelah lokomotif diesel elektrik. Prinsip kerjanya hampir sama dengan lokomotif diesel elektrik, tapi tidak menghasilkan listrik sendiri. Listriknya diperoleh dari kabel transmisi di atas jalur kereta api. Jangkauan lokomotif ini terbatas hanya pada jalur yang tersedia jaringan transmisi listrik penyuplai tenaga.
Jenis lokomotif berdasarkan roda
Jenis lokomotif berdasarkan konfigurasi sumbu/ as roda lokomotif:
- 1. kode B artinya lokomotif dengan 2 roda penggerak atau Bo-Bo
-
- Misal Lokomotif Uap Tahun 1898: Seri B Bristol
- 2. kode C artinya lokomotif dengan 3 roda penggerak atau Co-Co
-
- Misal Lokomotif Uap Tahun 1905: Seri C Birmingham
- 3. kode BB artinya lokomotif bergandar 2 2 jadi dengan roda penggerakada 4 as roda atau memiliki 8 roda
-
- Misal Lokomotif Uap Tahun 1920: Seri BB Manchester
- 4. kode CC artinya lokomotif bergandar 3 3 jadi total penggeraknya ada 6 as roda atau memiliki 12 roda .
-
- Misal Lokomotif Uap Tahun 1930: Seri CC Manchester
- 5. kode D artinya lokomotif bergandar 4 loko jenis ini biasanya hanya memiliki gandar tunggal sehingga total penggeraknya ada 4 as roda dengan jumlah roda 8.
-
- Misal Lokomotif Uap Tahun 1954: Seri D54 Krupp Liepzig


5:51:00 PM
Mas Aryen Railfans Riki










